Kamis, 20 Juni 2013

Kisah di Balik Lagu 'Taubatku pada Mu'



Taubatku pada Mu. Sebuah lagu yang benar-benar mengawali ketertarikan saya dalam menciptakan sebuah lagu di dalam bermusik. Lagu ini adalah lagu pertama yang saya buat ketika saya masih kelas satu SMA di SMAN 1 Purwakarta (kangen banget sama ni kota J). Konsep lagu ini saya buat saat semester 2 sekitar tahun 2007. Jadi ceritanya begini, saat itu adalah masa-masa ujian praktek kenaikan kelas. Nah, untuk mata pelajaran kesenian tiap siswa diwajibkan untuk melakukan 2 hal. Pertama, kita disuruh lomba nyanyi karoke satu kelas yang diadakan oleh pihak sekolah (keren gak tuh!).

Yang juara 1 dan 2 tiap kelas, akan dilombakan lagi satu angkatan dihadapan seluruh siswa dan guru-guru (semacam festival karoke jadinya). Kebetulan waktu itu saya juara 3 di kelas saya X8 (dari 35 anak), jadi saya tidak ikut lomba nyanyi se-angkatan. Padahal waktu itu saya juga belum bisa nyanyi, tapi mau gimana lagi, namanya juga tugas akhir kenaikan kelas, ya nekat aja nyanyi dan kaget banget juara 3 haha padahal suara saya biasa aja harusnya. Pada budek kali yak haha... Tapi dari sanalah saya mulai menyadari bahwa mungkin memang bakat saya di musik adalah bernyanyi (gayamu toh leeh leeh). 


Setelah tugas lomba nyanyi tadi, tugas kedua adalah kita semua diwajibkan menciptakan sebuah lagu! Mendengar hal ini saya ketakutan setengah mati! Tapi bukan saya doang sih, teman-teman yang lain juga kebingungan gimana caranya membuat lagu?? Kita dikasih waktu satu minggu untuk membuat lagu tersebut dan menyampaikannya dalam bentuk rekaman digital! Nah loh, waktu itu belum punya HP canggih buat ngerekam (emang nyusahin ye ni sekolah haha). Akhirnya, karena keadaan terpaksa itulah saya benar-benar banting tulang, jungkir balik, serius memikirkan bagaimana caranya membuat lagu! (lebay mode on). 

Teman-teman saya kebanyakan berpikir begini: “Yang penting jadi lagu, bodo amat mau jelek juga! Ngejiplak selesai..Yang penting lulus wae”. Yaaa tidak semua berpikir seperti ini, ada teman saya yang memang jago bermusik dan bisa membuat lagu sendiri, malah ada yang mengumpulkan lagunya sendiri dengan format fullband (super sekali). Saya pun setuju dengan kata-kata barusan, bahwa yang penting lagu jadi dan tidak harus yang ‘wah’, tapi saya tidak setuju dengan menjiplak! Waktu itu saya berpikir seperti ini: ‘Ini adalah kesempatan saya untuk membuktikan kepada diri sendiri, sejauh mana bakat dan ketertarikan saya di musik’.



Makannya, sayang banget kalo kesempatan seperti ini dibuang hanya untuk menjiplak lagu, kesempatan yang seharusnya bisa mengeksplor kemampuan diri sendiri. Awalnya saya ingin membuat lagu tentang percintaan, akan tetapi rasanya kok sulit sekali ya untuk membuatnya. Mungkin karena masih jomblo dan belum pernah pacaran waktu itu, jadi saya gak dapet feelingnya karena gak tahu rasanya pacaran kayak apaan haha (menyedihkan hiks). Akhirnya, saya pun memutuskan untuk membuat lagu religius yang selesai selama 2 hari penuh (waktu hari libur saya manfaatkan untuk nyelesein lagu dan lirik) karena memang saat itu yang saya pikirkan yaaa seputar ilmu keilahian dan intropeksi diri (waktu masih alim bangets hahay). 

Jadi, makna dari lagu ini adalah seseorang yang ingin bertaubat kepada Tuhan yang akhirnya benar-benar membuat dia sadar dan percaya, setelah orang ini melakukan ‘pencarian’ Tuhan yang sesungguhnya, karena dia merasa sudah tersesat terlalu jauh dalam menjalani hidup ‘tanpa’ Tuhan/ tanpa melaksanakan perintah Tuhan. Lagu ini saya tujukan kepada diri saya sendiri dan beberapa teman saya yang sama-sama masih goyah iman dan taqwanya, supaya kita semua diberikan rahmat dan hidayah-NYA agar selalu senantiasa berada di jalan yang lurus.  Amin... (Ustadz mode on haha).

Add caption

Lagu ini merupakan lagu ke-8 yang saya rekam secara semi-profesional dengan format fullband (demo) di Gana Record Studio pada tanggal 29 April shift 2 studio 1 jam 17:00-00:00. Sebenarnya saya ingin musik lagu ini seperti perkusinya Maher Zain di lagu ‘Insyaallah’, tapi karena software musiknya tidak memadai akhirnya kita pakai kendang hehe (tapi tetep asyik ko :)).


"Kemana ku berjalan di dunia ini, di mana pula ku bersandar. Oh Tuhan luruskanlah
jalan hidupku ini. Ku ingin bertaubat hanya untuk-Mu"
- Sigit Khamdani -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar