Kamis, 20 Juni 2013

Kisah di Balik Lagu 'T'lah Berubah'



T’lah Berubah. Lagu ini merupakan lagu favorit saya, karena komposisi lirik dan musiknya benar-benar mewakili ‘Gue Bangetss’. Taylor Swift adalah sosok yang paling menginspirasi saya dalam proses pembuatan lagu maupun musiknya. Selain mbak Taylor Swift, Peterpan juga menjadi inspirasi saya dalam pembuatan lirik lagu ini. Haha... bukan bermaksud ‘ngikut-ngikutin’, tapi menurut saya komposisi yang pas buat lagu ini ya memang seperti itu.

Awalnya saya ingin menjadikan lagu ini sebagai ‘jagoan’ di album Fortunata ini, bahkan waktu sebelum pertama kali masuk studio rekaman, lagu ini memang yang paling enak didengar dibandingkan lagu lainnya menurut saya. Akan tetapi, karena rasa cinta saya yang begitu besar dan mendalam kepada mbak Fortunata (hatchin, ngelap ingus), akhirnya tetap pada pendirian saya bahwa lagu Fortunata lah yang menjadi lagu andalan. Konsep lagu ini saya buat di kamar kosan saya di Bintaro, pada saat saya masih kuliah di STAN tingkat 2 semester 3-4 sekitar tahun 2010-2011. Saya baru menyelesaikan lagu ini saat saya tingkat 3 sekitar tahun 2011-2012. 
Add caption
Awalnya, saya ingin memberi judul lagu ini ‘Tak Bisakah’, tapi setelah dipahami makna lagunya, lebih tepat kalau lagu ini saya beri judul ‘T’lah Berubah’. Lagu ini menceritakan sebuah kisah tentang seseorang yang ingin meminta maaf kepada orang yang sangat dicintainya pada saat itu karena orang ini telah membuat sebuah kesalahan besar dan fatal kepada orang yang dicintainya itu. Akan tetapi, si dia yang dicintainya itu sikap dan sifatnya telah berubah kepada orang ini, mungkin karena sakit hati dan belum bisa memaafkan kesalahan orang ini dan akhirnya hubungan mereka pun kandas.

Meskipun sudah putus, orang ini tetap berusaha meyakinkan si dia bahwa orang ini bisa memperbaiki kesalahan yang telah dilakukannya itu dan menunjukkan betapa besar cintanya kepada si dia, dan orang ini ingin sekali si dia menjadi pendamping hidupnya untuk menemani dirinya sampai ajal memisahkan mereka (berat bahasanye yee haha). Lagu ini saya buat untuk si ‘Nyonya’ (eciiee).  Jadi ceritanya kita berdua ini pernah putus nyambung, dan waktu itu saya yang berbuat salah (ngaku ni ye). Akhirnya saya buat lagu ini buat minta maaf ke doi dan ngasih lagu ini ke doi dengan cara dan package yang romantis beud dah (udah kayak sinetron pokoke XD), sampai akhirnya lagu ini mempan buat ngerayu si ‘Nyonya’, makin lengket deh kita hahaha. 

Lagu ini adalah lagu ke-4 yang saya buat dan merupakan lagu ke-10 atau lagu terakhir yang saya rekam di Gana Record Studio pada tanggal 29/30 April 2013 shift 3 studio 1 jam 00:00 – 05:00. Kenapa lagu ini digarap terakhir?? Mari saya jelaskan... Lagu yang satu ini memang lagu spesial, karena benar-benar memberikan kesan yang berbeda bagi saya dan tentunya bagi Bang Pancal selaku pembuat musiknya. Di lagu ini saya terpaksa bolak–balik Kelapa Gading--Bintaro dan kita berdua sampai pusing untuk memikirkan arangsemen yang paling tepat buat lagu ini. Kalau dihitung-hitung, udah 3x kita ganti arangsemen buat ni lagu! 

Pertama, lagu ini mau dikasih beat yang pelan, guide musiknya udah dibuatin tuh sama komandan Pancal, Cuma saya yang gak setuju dan pengennya lebih nge-beat. 

Kedua, arangsemennya mau dijadiin pop semi­-reggae (kayak Jason Mraz gitu deh). Ide ini pun inisiatifnya dari komandan Pancal, saya pun setuju awalnya. Tapi setelah guide musiknya jadi, musiknya terlalu reggae, udah bukan pop semi-reggae melainkan ska-reggae gitu deh. Akhirnya lagi-lagi saya kurang setuju dengan arangsemen tersebut karena merasa warna vokal saya kurang cocok dengan arangsemen seperti itu. 

Ketiga kalinya, saya langsung turun tangan dalam pembuatan guide musiknya (wuis gaya beud). Saya berikan contoh musik yang sesuai dengan keinginan saya, kita berdua pun akhirnya berdiskusi. Saya yang kasih masukan ketukan drum di bagian bridge dan beberapa bagian lainnya, Bang Pancal yang mematangkan komposisi musiknya secara keseluruhan hingga akhirnya lagu ini pun selesai. 


Sebenarnya lagu ini adalah lagu yang seharusnya direkam ke-3, tapi karena arangsemennya belum ketemu yang cocok, akhirnya diganti sama lagu ‘Perjalanan Hidup’ duluan. Lagu ini pun disimpan hingga mendapat giliran untuk direkam terakhir kali (haha).
"Ku tahu engkau pergi dariku, dan kau pun tinggalkanku.
Ku tahu ini akhir cintaku, ku ingin bersamamu"
- Sigit Khamdani -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar